Roh yang Keluar

Minggu, Desember 10, 2017

Beberapa hari belakangan gua merasa sibuk banget, baik di kantor maupun di kampus. Kesibukan itu membuat gua harus telepon kesana kemari, dan harus jalan kesana kemari. Gua harus menyelesaikan projek kampus untuk dikumpulkan pas UAS. Gua merasa super sibuk sampai gua jarang banget melihat handphone ketika kerja.

Tadi siang gua baru ke indomaret untuk tarik tunai, tetapi setelah uangnya keluar, gua lupa mengambil kartu ATM. Tragedi kartu ATM lenyap hampir terulang kembali kalau bukan karena mas-mas yang dengan sigap manggil gua dari balik pintu Indomaret.

"Mba! Mba! Kartu ATM nya ketinggalan yah?"

Gua pun menoleh dan sibakan rambut. #ciaaa "Ya mas? AH, IYAAA!!!!!"

Dengan langkah terbirit-birit gua pun menyambangi ATM lagi. Mba-mba yang tadinya ngantri di belakang gua dengan baiknya menyuguhkan kartu ATM gua. Udah serasa kayak lari estafet sekomplek aja gua. :"D

Ketika balik ke kantor lagi, gua pun cerita ke senior gua. Pernyataannya selanjutnya membuat gua tercengang.

"Iya, beberapa akhir ini aku lihat kamu kayak orang yang roh nya hilang. Saya udah berapa lama jadi pimpinan jadi saya tahu betul gimana. Kamu itu seperti punya banyak masalah tapi kamu pendam sendiri. Menurut ku sih gak baik loh untuk memendam masalah sendiri. Lebih baik di ceritakan. Sini, jadi pasien psikolog saya yang pertama."

Awalnya serius tapi ujungnya sedikit nyeleneh nih senior gua.

Gua yang lagi makan nasi padang plus ayam bakar dengan nikmat pun merasa hampir tersedak.

Karena selama beberapa hari ini gua hanya merasa sibuk banget. Tapi senior gua bisa bercerita seperti itu. And I was like, "what, mate?"

Setelah menelaah perkataannya, barulah gua mikir. "Apakah benar gua ada masalah? Sampai dia bisa ngomong gua layaknya jiwa yang rohnya gak bersatu dengan badannya?"

Dan yah benar aja, gara-gara senior gua nyeletuk, gua akhirnya kepikiran lagi sama masalah gua yang sebelum-sebelumnya terjadi. Masalah yang membuat gua kehabisan akal pikir. Masalah yang membuat gua harus mengubur ego gua dalam-dalam. Dan masalah yang membuat gua merasa seperti orang terbodoh di dunia yang pernah hidup, mati dan hidup kembali menelan cacian dengan ludah yang tertelan paksa. I don't want to go back into that state of mind at the time, makanya ketika makan siang itu hanya gua fokuskan untuk menerima nasi padang dengan lahap. Because nasi padang is what make me happy! Hehehe.

Ketika pulang, gua meratapi kembali kata-katanya tentang "kalau ada masalah kamu cerita, jangan dipendam seorang diri."

I did. I tried. But the last time I did, they told me to think before talk.

Gua merasa mungkin 'ini' yang dimaksud. There was a time in my life, that I felt so fed up, I felt like I just wanna give up so bad, but in the end of the day, I still accepted and continue my life.

I was worried and cared for my life, but I don't why that strong beliefs just teared down because of 'us'. I hate to admit this but I am just so fucked up to how poor-hearted I became. I feel so many urge to give up but this hands supported me to not. But I feel so guilty for this hand because I feel so wrong on so many levels I don't understand myself.

Gua selalu bilang ke Princess, "we should drink beer and karaoke!!" Tapi gak pernah gua lakukan. 2 alasan: bir (selain radler 0% alkohol) itu mahal uga, gak punya waktu.

I want to karaoke so bad that after I bought a voucher of it, nobody can join me. I guess I have to sing the song alone. You know, just screaming, hating, and scrunching everything.

  • Share:

You Might Also Like

0 comments