Terpana Dengan Hanz Dental Care

Senin, Maret 26, 2018

Sudah lebih dari 2 tahun semenjak gua membersihkan gigi di The Clinics daerah Jakarta Selatan. (Dulu masih niat banget ke Selatan gara-gara ada promo Fave juga... Pintar sekali saya gengs)

Ketika nongkrong di tempat Jenjen, kami berdua sama-sama melihat beragam promo Fave yang bertebaran ditambah lagi dengan tambahan cashback 25% atau diskon 10%. Yah gua anaknya pantang lihat diskon + diskon apalagi dari Fave jadi... Sepanjang malam yang gua lihat adalah aplikasi Fave bolak balik sampai bosan. Pilihan gua malam itu adalah Scalling+Polishing+Stain Remover di Hanz Dental Care seharga Rp 75.000 yang kebetulan dekat banget dengan tempat tinggal. Tinggal guling guling dikit udah nyampe. Hahaha.

Gua beli vouchernya hari Jumat malam. Niatnya mau langsung di pakai hari Sabtu. Jadi, pagi-pagi gua langsung telepon ke nomor yang tertera. Sayangnya, setelah 5 kali percobaan (udah kayak tes laboratorium aje), gua disambungkan dengan voicemail. Di kali ke 6 baru diangkat sama asisten yang kemudian bilang, "Whatsapp aja yah untuk reservasi."

Ehmm... okay.

Gua pun chat melalui Whatsapp bahwa gua ingin reservasi untuk Sabtu malam jam 5.30. Serta merta gua tunjukkan bukti pembelian Fave, nomor telpon gua, dan tentunya nama gua. Udah panjang gitu kan penjelasan gua (yang entah kenapa hari itu gua bisa sedetail itu buat reservasi). Tetapi kalimat yang dilontarkan oleh sang asisten membuat gua terdiam sejenak.

"Reservasi 1 hr sblm" 

Udah gitu aja.

Gua pun mencoba lagi dengan menjelaskan "Buat hari ini gak bisa yah? :") Saya dari tadi pagi telp 5x kena voicemail"

Dengan tampang tak berekspresi dan tak beremosi, sang asisten pun membalas:

"Reservasi 1 hr sblm"

. . .

.  .  .  .

Gua curiga ini yang balas gua robot nih...

Like, ya gua juga tau reservasi 1 hari sebelumnya. Tapi gua beli di hari Jumat malam jam orang lagi mau tidur, yakali gua gua telpon buat reservasi? Dan gua juga udah coba telpon besoknya pagi-pagi which is jam 8 pagi. Tapi bukannya di angkat malah masuk voicemail. Jawabannya itu membuat gua gemas-gemas geram gitu loh. Kek bisa kan jawabnya AT LEAST kalimat yang berbeda, "Maaf kak. Memang sudah ketentuannya untuk reservasi 1 hari sebelumnya." Atau "Untuk hari ini jadwalnya sudah full kak." Kan lebih enak dengernya. Kalau kalian jadi gua, bakalan biasa aja atau merasa jengkel?

Okey lanjutlah, gua juga gabisa apa-apa. Gua pun menjawab, "Yaudah. Hari Senin jam 5.30 sore bisa?"

Dan si mesin itu menjawab "Ok."

Okay. Gua udah gak jawab lagi si mesin itu karena gua anggap sudah OK.

Hari Senin nya gua datang dong sesuai janji, jam 5.30. Bahkan gua lari dikit karena gua pikir telat. Gua nyampe di klinik jam 5.33. Telat 3 menit lah. Sewaktu gua datang, ada seorang ibu dan anaknya yang datang ingin konsultasi atau apalah gitu. Si asisten pun bilang, "Diisi aja bu datanya. Masih ada 5 pasien."

Gua pun seketika SHOCKED! Gile aje. Ibu itu juga sama shocknya dengan gua karena dia langsung batal dan pergi. Gua juga diminta isi data, lalu gua pun nanya, "Ini saya udah reservasi harus tunggu 5 orang lagi? Atau saya yang pertama?"

Asistennya pun bilang, "Gak kok."

Timbullah pertanyaan aneh di kepala gua, "Kok dia gak nerima ibu itu yah? Orderan ditolak begitu saja."

Asisten tersebut masuk lagi ke dalam ruangan. Gua pun menunggu dengan sabar di ruang tunggu yang ukurannya sebesar kamar mandi gua dikali 2. Yah, tempatnya mungil banget saudara-saudara. Tapi lumayan unyu karena ada patung pug di bagian depan sehingga setiap ada anak kecil yang lihat, selalu berhenti dan mengagumi benda mati itu dengan girang.

15 menit gua menunggu. Sembari melihat review-review klinik kecantikan di Kelapa Gading.

25 menit gua menunggu. Sembari melihat forum femaledaily dan instagram. Asisten keluar dan menawarkan wifi gratis yang gua terima dengan senang hati walaupun sebenarnya kuota gua masih banyak. HA!

45 menit gua menunggu. Ada cewek yang datang, katanya sudah reservasi buat jam 6.30. Kami berdua pun menunggu dalam hening.

1 jam gua menunggu. Dokternya masih belum datang juga. Mood gua hari ini adem banget keknya, biasanya gua gabisa betah nunggu sebegitu lama.

1 jam lebih 15 menit (atau lebih) kemudian seorang lelaki tinggi memakai kacamata dan masker mulut pun datang sembari membawa kantung plastik putih. Ketika dia datang gua langsung spontan senyum, karena gua merasa dia dokter. Tapi . . . cowo itu malah agak kaget, mungkin dia mikir kok ada sales yang nawarin produk kali yah. Dia pun masuk ke dalam ruangan. Ketika dia lewat, aroma makanan pun bertebaran. Gua jadi laper... Belom makan cuy...

Gak berapa lama gua pun di panggil masuk.

"Brenda... Silahkan masuk." kata sang asisten.

Gua pun masuk dengan perasaan dag dig dug. Kayak separuh excited, tapi separuh takut gitu. Jadi awkward.

Gua pun duduk berhadapan dengan dokter cowok. Ya siapa lagi kalau bukan cowo yang tadi masuk. Tapi kali ini masker mulutnya udah di lepas, dan ...



Lah, kok... 



.
.
.

source: jadiberita.com

Kok kamu ada disini, Brandon??

Gua pun mengedipkan (kedua) mata untuk melihat lebih jelas lagi. Oh, ternyata hanya mirip. Dokternya senyum-senyum. Gua juga ikut senyum-senyum. Jadi lupa kalau tadi udah nunggu sejam. (Aheyy sa ae lu bren...)

"Brenda yah. 21. (sambil lirik gua) Kuliah atau kerja?"

"Dua-duanya..."

"Ohh... Kuliah dimana?"

"Di Ancol."

"Ohh... jauh banget!"

Dan kemudian basa-basi yang lainnya. Mungkin untuk mencairkan suasana.

Gua pun diminta duduk berbaring di ... apa yah namanya? Sebut saja kursi gigi. Sumpah gua tegang banget. Apalagi ketika dokternya bilang, "Wah... bakalan banyak darah nih." JLEB. Ya I know, nyikat gigi aja, gigi gua bisa berdarah, apalagi scalling. Berlumur darah mungkin kali yah. :"(

Anyway, gua lupa. Perkenalkan dokter gigi yang selama 30 menit kedepan menangani gua, bernama Drg M. Handoko.

"Buka mulutnya... Akk..."

Gua pun membuka mulut dan...

SSRRRTTTT... SINGGGGNNGNGNGNG.... CROTTTT (suara penyedot air) SSRRTTTT.... SINGGGNN (suara mesin penggilas gigi)

Sumpah, gua kayak ga dikasih jeda buat menenangkan hati ini yang udah ketakutan setengah mampus. Ngilu gue yaampun. Gua memejamkan mata, mengeratkan pegangan tangan, dan mengepal kaki gua semampu gua untuk menahan rasa tak wajar ini. Di beberapa bagian gua mengerutkan dahi sekerut-kerutnya karena ngilu. Sepanjang proses scalling, yang ada di benak gua adalah...Semoga lidah gua gak ke gilas. Semoga gua gak tiba-tiba tutup mulut. Dan berbagai aksi sadis lainnya yang entah kenapa bisa tersirat di otak gua saat itu. Bren, bren...

Ketika gua gak sanggup, gua mengangkat tangan. Like, seriously, gua angkat tangan. Dokternya pun berhenti menggilas gigi gua. Gua pun kumur-kumur, mengambil napas sebentar, dan kemudian berbaring lagi untuk melanjutkan perjuangan. Karena gua ketawa-ketawa (karena gugup), dokternya bilang, "Jangan ketawa aja. Masih banyak tuh yang harus dibersihkan." Gua pun meringis dalam hati.

Pinter banget lu bren nyiksa diri. . .

Sekali lagi dia pun membersihkan gigi gua. Dari luar, dalam, kiri, kanan, atas, bawah, sampai ke sela-sela. Gua sampai mau nangis entah kenapa. Sebenarnya gak sakit-sakit banget kalau dipikir kembali. Tetapi suara dari mesin yang begitu garing terdengar di telinga gua membuat suasana begitu menegangkan.

Gua pun mengangkat tangan lagi untuk yang kedua kali nya. Kumur-kumur, ambil napas, dan akhirnya berbaring lagi.

"Masih banyak lagi yah?" kata gua.

"Masih banyak. Mau berhenti? Ya gapapa sih haha" jawab dokternya entah iseng entah serius.

Dokter Han pun melanjutkan perjuangannya. Kali ini dia mengganti alatnya dengan ukuran yang lebih kecil. Untuk dapat menjangkau lebih dalam ke area sela-sela gigi. Karena ukuran nya yang lebih kecil, gua gak begitu merasa kesakitan. Gua jadi lebih relaks dan bisa bernapas lebih lega. Gua juga tak lagi mengepalkan kaki kayak orang aneh.

Setelah 30 menit, proses scalling gua selesai. Gua kumur-kumur lagi untuk terakhir kalinya. Dan walaupun udah ketiga kalinya kumur-kumur, air yang gua keluarkan selalu bersamaan dengan darah. Sesuai dengan yang dokternya bilang. "Bakal banyak darah." 

Asisten yang tadi meminta gua untuk berbaring lagi karena dia akan mengoleskan sesuatu yang berwarna pink dan rasanya seperti strawberry gum. Dia menyuruh gua menunggu hingga 1 menit sebelum berkumur. Gua pun menunggu dengan pandangan kosong, sembari mengumpulkan jiwa gua yang tadi keluar dengan sendirinya. Gua melihat dokter sudah duduk dikursi nya memandangi beragam lampiran pasien sembari memegang hape nya yang berwarna merah.

1 menit berlalu dan gua kumur-kumur lagi. Ini udah yang final sih.

Gua pun duduk berhadapan dengan dokter Han.

"Iyak, udah. Sebenarnya gigi kamu masih ada lagi yang harus dibersihkan. Belum lagi polishing dan stain remover. Tapi waktu kamu sudah cukup."

Terus gua nanya, "Jadi gimana?"

"Kamu beli lagi aja vouchernya. Buat bersihin sisanya lagi, sama polishing dan stain remover. Soalnya, waktu kamu udah cukup." Jawabnya sembari melirik pasien yang ada di depan.

Errr. okay...

Gua pun mengucapkan terimakasih sembari berjalan keluar.

Ketika gua membuka pintu, gua mendengar suara, "Halo xxx (lupa namanya) ... udah makan?" untuk pasien yang selanjutnya.

Gua agak mong ketika sudah diluar tempat itu. Entah kenapa gua kek merasa gimana gitu. Wajah dokternya yang mirip Brandon Salim tak lepas dari benak gua. Gua langsung cerita ke Troton kalau gua salfok sama dokternya. LOL.

Overall, gua merasa scalling-nya kasar. Rasanya seperti. . . gua tenggelam di dalam laut, dan engap-engapan untuk cari udara segar. Tapi gak sampai ekstrim banget sih. Emang dasarnya gua lebih berasa ngilu dan yah... lebay.

Sejujurnya, mulai dari proses booking yang miskom, nunggu dokter sampai sejam, sampai pembersihan karang yang kata dokternya sendiri belum bersih dan disuruh beli voucher lagi karena 'waktu gua gak cukup', I couldn't agree with most of the good reviews on Fave. Gua beli voucher itu karena gua lihat review-review nya bagus semua. Tapi ketika gua beneran datang ke tempat itu, I had a different treatment. Kalau bukan karena wajah dokternya yang membuat gua  terpana terpersona mirip Brandon Salim, gua bakalan bad mood banget tuh.

Haduh bren bren...

Yah, jadi karena gua gak bisa menulis review di aplikasi Fave (gua juga heran kenapa ga ada menu buat nulis review), makanya gua lampirkan unek-unek gua disini.

Sekian pengalaman saya bersama drg Handoko di Hanz Dental Care yang dokternya mirip banget sama Brandon Salim. Terimakasih. Salam sejahtera~ Bye~

  • Share:

You Might Also Like

9 comments

  1. Yahh gue udah beli voucher nya, baru ketemu blog ini. Kok di fave bagus2 ya review nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. ^^; Mungkin gua nya juga miskom. Anyway, how's yours?

      Hapus
    2. samaaa, ahhh males bngtt deh kalo bnran kyk gitu, gw udh beli 2 voucher lagi grrrrr

      Hapus
  2. Baru hari ini kesana dan niat cek list harga perawatan disana, eh nemu cerita begini hehe...
    Duh kamu mending udah pernah walau 2thn yg lalu, aku malah baru pertama, udah gitu ga tau bakal berdarah, jadi pas sempat jeda, aku kira selesai, ternyata suruh kumur2 dulu, sempet bingung kenapa, eh ternyata ada darah yaa.. tapi aku tadi sepi, jadi janji jam 1, datang jam 12, langsung perawatan, cuma dokternya bilang kenapa baru tukar voucher,karena aku beli awal bulan, niat minggu ke2 pakai karena minggu pertama ada janji pergi, eh asistenya bilang ga bisa, minggu depan aja, kan bukan salah aku telat tukar wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lalu apakah seperti mba brenda juga yang disuruh beli voucher lagi?

      Hapus
    2. Kayaknya memang bakalan selalu ada darah deh. ^ ^"

      Hapus
    3. @Chintya Aku sih disuruh beli voucher karena belum kelar tapi udah ada orang lain yang udah nungguin di depan

      Hapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Duh kepo jadinya, yg lainnya disuruh beli voucher lagi gak? Aku udah beli vouchernya, mungkin ditukar weekend ini. Kalo setengah2 gitu kan gimana ya rasanya

    BalasHapus