Innocent

Minggu, November 22, 2015

Am I innocent ?

Banyak orang, termasuk Mom, bilang ke gua, "Alice, lo innocent banget loh."

Dan gua ngeliat mereka dengan pandangan aneh, "Maksud lu?"

Gua gak pernah merasa "innocent". Bahkan di salah satu postingan gua tahun 2013, gua bisa mengatakan bahwa gua tidak akan pernah lagi bisa dikatakan sebagai makhluk innocent.


Begitu penasarannya dengan 'innocent', gua menanyakan hal ini kepada hampir semua teman gua.

Nanya ke teman kerja:

Gua : Mba, aku polos gak sih?
Mbasus : Lu? Polos? Nenek lu!
Gua : (tertegun)
Mbasus : Halah, polos apaan. Saya tahu kamu itu tidak polos sama sekali. (dengan pandangan mata setajam antagonis di sinetron)
Gua : :'D

Gua : Mas, aku polos gak sih?
Masdim : Hmmm... haha... hmm... Gimana ya bilangnya?
Gua : Hah? Gimana gimana maksudnya?
Masdim : Ya kalau dibilang  polos sih enggak. Dibilang engga polos juga... enggak. Yahh...
Gua : Wehew.

Gua : Mpok, menurut mpok, aku polos gak sih?
Mpokda : Iihh... ini anak, nanya-nya itu mulu daritadi.
Gua : Iya makanya, aku polos gak??
Mpokda : Yah....
(dan sampai sekarang dia tidak menjawab pertanyaan itu)

Gua : Aku polos gak sih, senior?
Senior : Apa kata mbasus, nenek lu! Kamu itu picik, saya tahu itu!
Gua : (...)

Nanya ke Temen Kampus :

Gua : Guys, gua polos gak sih?
Cideb : Yalah bren, lu masih lugu-lugu gitu. Lu masih belum.... ya begitulah.
Tine : Yagitudeh bren.
Yuce : Yah Setuju sama mereka lah.


Anehnya adalah ketika gua nanya ke dua kelompok teman dari lingkungan yang berbeda, jawabannya juga turut berbeda. Ketika gua nanya ke teman kerja, mereka semua menganggap gua bukan cewek yang polos-polos amat. Terlebih lagi dikatain picik sama senior. Sementara itu, temen kampus gua menganggap gua cewek yang polos amat. Jadi gua bingung. Kesimpulan apa yang bisa gua tarik ya?

Timbul beberapa kemungkinan di benak gua. Barangkali temen kerja gua bisa mengatakan demikian karena gua sudah menghabiskan waktu 48 jam tiap minggunya bersama mereka. Dari pagi ketemu sore, ketemu pagi lagi gua berada di satu ruangan yang sama. Terkadang membahas hal-hal absurd, mengomentari pelanggan, menghabiskan waktu bersama setiap hari. Sementara itu ketika bersama teman kuliah, gua hanya menghabiskan malam bersama mereka (kenapa jadi ambigu ya?) Perbandingan waktu 16:5 antara temen kerja dan temen kuliah. Nah jika demikian, maka waktu akan mampu membuat kita mengenal seseorang lebih dekat. Dan jika berarti demikian, ... gua ... bukan cewek polos, dong (?)

Hmm...


Karena gua masih saja penasaran dengan satu kata "POLOS" itu. Gua sampai membuka google dan mencari arti kata tersebut. Kemudian keluarlah hasilnya bahwa yang dimaksud polos adalah . . .

. . .

banyak.

Ya, banyak. Tergantung darimana kita memandang dan mengambil perspektif nya.

Merajuk ke kamus besar bahasa Indonesia, polos/po·los/:

  1. adjektiva, berwarna semacam saja (tidak dihiasi atau diberi berbunga-bunga dan sebagainya): piring --; bajunya --; 
  2. kiasan, sangat sederhana (sikap, tingkah laku, dan sebagainya); 
  3. kiasan, apa adanya; dengan sebenarnya: jawabannya -- saja;
  4. kiasan, tidak bermaksud jahat; jujur (tentang hati, pikiran);

Namun kebanyakan orang menghubungkan kata polos dengan 'tidak pernah pacaran', yang jomblo dari lahir.

Dari sini, gua menyadari bahwa teman kuliah gua mengatakan gua polos karena gua gak pernah pacaran. Yeah. . . Nineteen and still single.

Sementara itu, teman kerja gua mengatakan gua tidak polos karena tingkah laku gua tidak sesedrehana itu. Sometimes, gua bisa mengatakan bad / nasty jokes. So yeah, of course, they would think more of me.

Setelah mencari beberapa penelusuran tentang 'polos', gua pun berhenti. Gua gak sebegitu polosnya, kok. Mungkin hanya kurang main aja. (Nah, lho!) Kita bisa mengetahui hal-hal baru ketika kita bertemu orang baru, melakukan hal yang tidak biasanya kita lakukan, membaca buku yang membuat kita berpikiran terbuka. Kata orang dewasa, kita mah kurang garam kehidupan. Semakin banyak kita bergaul maka semakin terbuka juga wawasan dan pemahaman kita. Tinggal di sortir saja mana yang bagus, mana yang buruk. Dan tentu saja, semua wawasan itu perlu di cerna. Karena kalau cuma numpang lewat, yah begitulah jadinya anak polos. Gak tau apa-apa.

Selesai sudah perjalanan penasaran saya kali ini. Salam.

  • Share:

You Might Also Like

2 comments

  1. hahaha, gw juga pernah nanya ke temen gw kaya gitu. jawabnnya selalu:

    'Hah kaya gini polos?? kalo gak polos elu kayak voldemort dong??'

    BalasHapus