Udah Jutek, Cuek, Hidup Lagi!

Kamis, Juli 02, 2015

WADUH!

Seumur-umur, gua gak pernah dengar ada yang ngatain gua dengan sebutan, "JUTEK". Di benak gua, gua selalu berpikiran bahwa gua adalah orang yang murah senyum, murah ketawa, dan bahkan kadang bisa seperti orang gila. Begitu mendengar gua dikira orang yang jutek, gua duduk merenungi kehidupan ini. Kehidupan gua yang terasa terombang-ambing. Yang terkadang bisa membuat gua tergeletak di kasur, hanya memandangi pemandangan kosong.

Katakan padaku, apakah diriku cuek bebek?

Pertama kali gua mengetahui sifat itu adalah dari teman gua. 

Saat itu, ada cowok yang lagi pdkt sama gua. Cowok itu dan gua, kami berdua, selalu di ceng-in sama anak-anak sekelas. (Iya, kami satu kampus dan satu kelas) Sebut saja cowok itu Monci. Jadi, awalnya tuh, Monci nanya-nanya soal kalkulus ke gua. 

Pada suatu ketika, dia minta gua ngejelasin tentang kalkulus sehabis kelas. Gua pun mengajari dia ala kadarnya (karena gua juga gak begitu ngerti sih, tapi ya gua keliatan "pinter" sih jadi...) Sehabis belajar bersama, Monci nawarin untuk nganterin gua pulang ke rumah. Yang mana gua tolak, karena ojek gua sudah nunggu dari berapa jam yang lalu. Lu bisa bayangin betapa hancurnya hati ojek gua kalau gua nyuruh dia pulang begitu aja, padahal dia udah nunggu tiga jam demi gua. Hikss. Jadi, kami pulang ke jalan masing-masing. 

Gak ada apapun yang terjadi setelah itu. Tetapi, entah kenapa, dari angin mana, dari hujan mana, dari alam mana, tiba-tiba teman kelas gua nge-ceng-in. "Cieee, Monci, cieee..."Setiap ada kesempatan kalau nama gua keluar di kelas. Awalnya gua biasa aja. Yaelah, kawanan orang gak jelas disitu, palingan mereka hanya menghabiskan waktu di pelajaran yang membosankan. Namun, lambat laun kawan, mereka makin mendukung semua yang berhubungan antara gua dan Monci. Padahal, kawan, gua tidak merasa ada sesuatu yang terjadi di antara gua dan Monci! Disitu gua merasa gak betul. Risih kan, ketika jelas-jelas tidak ada apa-apa, tetapi di duga ada apa-apa. Gua sempat galau.

Apakah Monci suka gua? Tapi kalau dia suka, dia gak pernah chat sama gua. Di kelas juga gak pernah jalan bareng ataupun ngomong bareng. Benar-benar gak ada apa-apa! Jadi . . .  gua clueless banget. Apakah gua terlalu percaya diri, berpikir bahwa dia suka gua padahal engga sama sekali....!? Idih. 

Tapi kemudian, setelah beberapa lama. Monci mendekati gua. Dia mulai dengan memberikan gua tumpangan gratis yang mana gua terima dengan senang hati. (Ojek mahal juga bro) Lalu ia memberi gua coklat pada saat "White Day" yang mana membuat gua tercengang, "Ada apa ini?" Sampai pada akhirnya, ia mengajak gua nonton di bioskop. Oke, di point ini adalah saat dimana pikiran semacam, "Apakah dia suka gua" wajar muncul. Seorang cowok ngajak cewek nonton berdua. Sepertinya tidak mungkin tidak ada unsur mendelik apapun. Kami berdua makan, nonton, jalan. Sampai pada akhirnya kami pulang. Saat dia mengantar gua pulang, dia bertanya, "Kalau gua ngajak lu nonton lagi, mau gak?" Gua menjawab ya. Gua gak merasa aneh. Karena, ya, kalau orang ngajak jalan, why not, right? 

Tetapi, di titik itu pula, semua yang ada di otak gua berubah drastis. 

Keesokan harinya, gua kongkow bersama teman-teman gua di depan mini market kampus. Sang pendamping setia, Lawson. Di sana, ada gua, Monci dan teman-teman kami. Mereka membahas tentang film, lalu gua nyeletuk, "Eh, Fast & Furious enak banget." Itu adalah film yang gua nonton bersama Monci. Mendengar gua mengutarakan film tersebut, Monci terlihat tidak nyaman di kursinya. Gua sempat berpikir apakah gua terlalu banyak berpikir ya. Kemudian teman gua nanya, "Kamu nonton sama siapa? Emang dapat tempat?" Di saat itu, gua yakin Monci melirik ke arah gua. Namun, gua tidak tahu apa arti sesungguhnya dari lirikan tersebut. Gua sengaja tidak menjawab gua pergi dengan siapa, "Tau gak sih. Gua nontonnya sampe leher gua sakit. Gua duduk paling depan!" Lalu kami pun berbincang-bincang seperti biasa. Namun gak beberapa lama kemudian, Monci berdiri dan pamitan pergi. 

That's it! 

Setelah Monci pulang lebih dulu dari gua. Wah, gua galau. Gua sampai nanya ke koko gua, apa motif Monci sesungguhnya. Gua galau, sumpah. Rasanya itu kayak udah di aduk tapi di biarin begitu aja. Jadi aneh. Apa yang terjadi ketika orang merasa aneh sendiri. Dia kebanyakan mikir. Ya, gua kebanyakan mikir. 

He likes me? He likes me not? 

Gua pun melihat kembali percakapan kami. 
Melihat gombalan-gombalan Monci. 
Melihat betapa menggelikannya percakapan itu. 
Haha...


And then, nothing happens...

You know...
Nothing happens. 

Like, bener-bener gak ada yang terjadi... 

Jadi begitulah kisahnya.

#eh belum kelar. Ada after story-nya

Setelah teman kampus gua tahu kalau gua dan Monci tidak lagi berhubungan (ambigu nih bah), mereka pun mengoceh. "Kan, itulah kamu. Cuek banget sih. Si Monci juga pasif banget." Gua hanya bisa melihat mereka dengan pandangan ah-ya-sudahlah. Mereka berpikiran gua cuek banget sampai Monci lelah akan hidup ini.

Kemudian... 

Datanglah seorang Bhante dari Thailand, sawadika! 

Ceritanya, gua jadi orang baik yang dana makan setiap pagi ke tempat ia berdiam. Secara seminggu berturut-turut, gua bangun pagi-pagi demi berjumpa dengan beliau. Bhante tersebut dikatakan dapat "melihat" orang. Jadi, kami berbondong-bondong bertanya lililolo. Ketika giliran gua sampai, Bhante tersebut tersenyum. (Dia tersenyum juga untuk setiap orang) 

Kata Bhante itu, gua merupakan orang yang cuek. Yang tidak peduli apa yang terjadi di sekitarnya. Ya kalo jatuh, jatuh aja. Ya kalo bahagia, ya bahagia aja. Urusan lu urusan lu, bukan urusan gua. Gua tipe orang yang agak tertutup. Kalau orang tidak mencari gua, gua juga tidak mencari orang. Bhante pun memperagakan gerakan tangan di telinga, "Halo halo??" Lalu mengerutkan kening dan mengibaskan tangan pertanda 'tidak tidak'. Haaa~~~

Begitu gua di katain seperti itu, pikiran gua langsung tercerahkan. Seketika. 


Dengan sigap gua mengeluarkan hape, gua buka applikasi chat LINE. Lalu gua chat "Hey" ke setiap teman gua. Bagi kalian yang dapat "hey" tiba-tiba, inilah alasannya mengapa. Dari sekian banyak orang yang gua chat tiba-tiba. Hanya satu dua yang berlanjut ke percakapan panjang. Salah satunya Alien. (emang alien=orang? lol) Kami bicara ini, itu, ini, itu. Ya begitulah. It feels good to share something with the other so... yeah. I felt relieved. Hahahaha...Yeah... Hahahhaa...Thanks!

Setelah insiden JUTEK, gua refleksi diri menjadi pribadi yang lebih kepo. Padahal sebenarnya kepo itu engga baik lho! Tapi seorang individu perlu juga yang namanya kepo, agar ada interaksi sosial dalam khalayak ramai. (duh, aliceolice!) Ngawur, bener, lama kelamaan. Ini akibat infeksi senior gua yang selalu gua suruh untuk 'Shut up! Don't Talk!'  Dia selalu ngatain gua kembali dengan ,'Interaksi sosial dalam masyarakat!' 

Hey, aliceolice! Eaya...



  • Share:

You Might Also Like

0 comments