Nulis atau Ngomong?

Minggu, Juli 12, 2015

Lebih suka mana: chat atau call?

Dulu, gua akan memilih chat ketimbang call. Karena kalau di chat, gua bisa memberikan emoticon imut seperti :), :D, >,<, dll. Sementara kalau call, gua gak akan bisa memanfaatkan emo itu.

Tetapi sekarang, gua memilih call. Karena kalau call, gua bisa menceritakan semuanya.

Terakhir kali gua menelepon ChilliCrab sampai satu jam. Kami ngomong gak jelas. Entah apa-apa saja yang diperbincangkan. Namun, berbicara dengan ChilliCrab selama hampir sejam di atas atap, rasanya melegakan. Gua berpikir kepada diri gua sendiri, kenapa gua jarang sekali menelepon yah? Lalu gua teringat Princess yang tidak pernah mau melakukan line call ataupun skype karena takut kuota-nya habis. Lalu SeungGi yang selalu sibuk karena pekerjaannya. Lalu, ... gua tidak ada orang lain yang bisa di ajak skype-an. Hiks.

Di ulang tahun ke sembilan belas, gua naik ke lantai 4 alias atap rumah. Gua memandangi langit yang kelam, melihat jalanan yang sepi. Disitu gua berdiri dan berharap teman-teman gua sedang menyiapkan surprise buat gua. Gua akan melihat mereka mencari-cari alamat gua dan menyiapkan cake dengan canggung dari atas. Atau mungkin Monci akan berdiri di depan pintu, ragu ingin masuk atau tidak. Tetapi di atas atap itu gua hanya berkhayal. Tidak ada yang terjadi karena hidup gua bukanlah drama Korea. Bhante benar ketika ia mengatakan gua terlalu banyak menonton video. Karena kebanyakan menonton drama membuat gua berpikir kehidupan gua juga akan penuh lika-liku-lucu mereka pula. Menyadari bahwa gua terlalu banyak berharap, gua pun merasa sedih dan menangis tanpa suara.

‘Hey, Alice. Kamu lucu ya... Gak ada yang nge-rayain di hari ulang tahun kamu! Bahkan orang sekantor gak ada yang ngucapin Happy Birthday!’

Ketika nangis, ChilliCrab nge-skype gua (atau gua yang nge-skype dia?). Gua curhat padanya bahwa gua merasa down padahal ini hari ulang tahun gua. Lalu gua nangis. Dia bertanya kenapa, awalnya gua ragu untuk menceritakan, tetapi akhirnya gua curhat lagi padanya. Chillicrab tertawa mendengar cerita gua. Memang sakit itu anak. Tetapi, walau ChilliCrab orang yang terakhir ngucapin Happy Birthday (yang mana gua paksa), gua merasa sangat lega ada dia. Setidaknya, gua gak nangis sendiri di atap rumah orang. Di situ pula gua menyadari betapa pentingnya sebuah telepon, dan mengapa dulu Mom sangat suka nelepon teman-temannya selama berjam-jam.


Ketika gua masih tinggal di Medan, cici gua sering membawa gua pergi dengan teman-‘teman’nya di malam hari. Kami sering menonton bioskop, nongkrong di warung kaki lima ataupun kafe. Melihat cici gua sering di ajak keluar, gua merasa iri padanya. ‘Kenapa teman gua gak begitu ya?’ Lalu gua menyadari bahwa teman-teman gua belum bisa mengendarai mobil. Teman gua yang cewek juga ada yang rumahnya jauh dan ada pula yang gak di-izin-in keluar sama orang tua mereka. Gua gak habis pikir sama orang tua yang mengekang anak mereka pergi keluar rumah. Kenapa ya? Okay lah, kalau anaknya masih SD,atau SMP, gak boleh keluar rumah sembarang. Lah, anaknya sudah SMA, tapi masih gak boleh keluar? Untung-untung anaknya gak ansos. Sayang kan, kalau gara-gara orang tuanya, anaknya jadi ansos. Selama gua di Medan, gua jarang keluar bersama teman karena alasan itu. Tetapi sekarang ketika gua sudah tinggal di Jakarta, ternyata gua juga jarang keluar sama teman. Alasannya adalah rumah gua di Gading sementara rumah teman gua di belahan Jakarta yang lain. Gua sering ngajak mereka jalan, tetapi semua nolak karena, “Idih, lu di Gading, bren!” atau “Ih, jauh keleus.” atau “gua ada janji”. Akhirnya gua jadi anak ansos di Jekardah. Kemudian, saya merasa lelah.

Kenapa gua suka menonton drama dan anime, atau membaca novel dan manga? Karena cerita-nya menarik, dan juga supaya gua bisa menghabiskan waktu. Menjadi ansos itu berarti punya waktu di rumah. Setelah pulang sekolah, gua biasanya main internet ataupun nonton dan baca. Sekarang setelah pulang kerja dan gak ada kuliahan, gua menghabiskan waktu dengan menonton drama. Gua sempat berpikir untuk membuka kembali onlineshop @oparfait. Gua pun membukanya, namun apa daya, gua masih gak dapat pembeli. Jadinya, gua tetap tidak ada kerjaan apalagi penghasilan tambahan. Karena itu, akhirnya gua melakukan hal gak penting lain.

Sabtu kemarin gua sial banget di kantor. Bukan ‘sial’ sih sebenarnya, melainkan ‘ceroboh’. Gua melakukan pekerjaan gua seperti biasa, tapi karena tidak cermat, gua salah melakukannya. Kemudian, gua diminta untuk mengecek kedatangan barang, namun setelah di cek ternyata ada yang kurang. Barang yang kurang tersebut bernilai Rp 800.000 an. Setara dengan seperempat gaji gua. Sadar bahwa gua melakukan kesalahan yang super duper sial, gua merasa lelah.

“Ya! Sebenarnya apa sih kamu lakukan? Semuanya gak beres. Semuanya menuai complain. Dasar anak kurang ajar!”

Lalu gua berpikir untuk resign, drop out dari kuliah, dan pulang ke Medan. Karena gua lelah. Gua gak tahu bagaimana menghadapi hari gua besok di kantor. Semua orang akan menganggap gua sebelah mata: manusia tidak bertanggung jawab.

Gua juga turut lelah dengan Mom. Gua pernah berkhayal hidup gua seperti drama. Tapi bukan kisah Siti Nurbaya! Lalu kenapa gua merasa seperti Siti Nurbaya di abad ke-21??

Pada saat kemarin gua pulang ke Medan, gua kembali bertemu dengan Jay. Jay yang menjemput dan mengantar gua ke Airport. Dia anak cowok yang ingin dijodohkan mamaknya dengan gua. Awalnya gua biasa saja, tetapi setelah melihat perilaku Jay yang tidak berubah dari semenjak pertama kali gua bertemu dengan dia, gua merasa jijik. Gua gak tahu apa yang sebenarnya salah dengannya, tapi dia terlihat seperti anak sakit.

Pertama kali gua kenal dengannya, adalah ketika ia mendekati cici gua. Saat itu ia dan mamaknya mengajak gua dan cici gua untuk makan di sebuah restoran seafood. Kami pun duduk, dia duduk di sebelah gua dan di depannya adalah cici gua. Entah kenapa, walaupun hanya sebelahan tetapi dia duduk begitu jauh dengan gua. Dia terlihat seperti duduk di ujung-ujung kursi! Capek gak gua liatnya? Memangnya gua penyakitan sampai dia harus duduk di ujung-ujung seperti anak ingusan? Tentu saja cici gua menolaknya dan kami tidak pernah bertemu sekalipun....

sampai gua kembali lagi ke Medan. Jay datang lagi, dan sayangnya itu bukan pertanda baik. Mamaknya Jay berpikir bahwa gua ada rasa pada Jay. Yang membuat semua runyam adalah Mom. Gua gak tau apa yang ada dipikiran Mom sampai dia sangat setuju Jay dan gua bersatu. Gua benar-benar bersabar ngeliat Mom sampai akhirnya gua gak sabaran lagi. Bagaimana bisa Mom setuju gua bersama Jay yang sakit hanya karena ia lumayan kaya? Gua dan cici gua sampai bertengkar hebat dengan Mom gara-gara lelaki gak beres bernama Jay. Mendengarnya saja gua sudah jijay. Tetapi Mom tetap maksa gua supaya berperilaku baik di depan mereka. Hello?

Ketika mereka mengantar gua ke Airport pada hari gua pulang, Mama Jay menanyakan pada gua apakah gua suka jualan dan ingin punya toko sendiri. Karena dia sudah punya rumah dan toko untuk anaknya Jay. Dia berharap gua menikah dengan Jay dan menjalankan usaha mereka. Belum cukup sampai disitu, Mama Jay meminta gua foto selfie dengan anaknya. Gua yang baik hati pun dengan terpaksa setuju dan foto menggunakan hape Jay. Gua pun sangat menyesal sudah melakukan itu karena ketika gua memegang hapenya Jay, gua tidak sengaja melihat wallpaper hapenya. Di wallpaper itu tertampang nyata foto gua dan Jay yang duduk sebelahan saat kami makan bersama di perayaan cici gua wisuda. Belum juga cukup sampai disitu, Jay memberikan gua dua batang silverqueen seberat 1kg satunya, sekaleng oreo dan mangga. Belum juga cukup sampai disitu, ketika gua sampai di Jakarta, dia nge-chat gua. Gua sengaja tidak membacanya. Tetapi apa daya, tiba-tiba kepencet dan yang keluar adalah : “Jangan lupa makan mangganya ya sayang” 

CUKUP! CUKUP! Gua muak! Semua yang ia berikan gua bagikan ke orang kantor dan teman kuliah gua. Gua tidak merasa kami berada dalam hubungan yang sejauh itu. Tetapi kenapa dia bisa manggil gua ‘sayang’. Kan sakit itu anak! Anjir... Gua curhat ke cici gua dan teman-teman gua. Mereka semua angkat tangan dan geleng-geleng. Cici gua sampai nyaranin, “Da, udah deh, ganti pp lu sama cowok!” Teman gua juga setuju. Sampai-sampai mereka meminta Monci untuk foto bareng gua. Gua hanya memandangi mereka dengan pandangan pasrah. Bahkan Monci tidak menanyakan apa-apa tentang masalah “foto bareng karena gua seperti anak siti nurbaya”

Karena tau gua delete contact Jay, Mom gua ngomel-ngomel. Kami pun bertengkar lagi. Gua muak dengan Jay, dan gua muak dengan Mom yang sudah tidak berpikiran jelas. Mom baru reda setelah Mamao menjodohkan gua dengan anak temannya yang kaya!! HELLO! TUHAN APAKAH YANG TERJADI! Karena itu Mamao, mau tidak mau, gua harus bertindak benar demi cici gua. Tetapi ujung-ujungnya, gua dan cowok yang baru dijodohkan itu juga tidak berjalan baik. Semuanya biasa saja sampai akhirnya beberapa hari lalu gua mendapat telepon dari Mom yang sudah balik bekerja di Australia. And, do you know what she says, “Da, Mom mau kenalin kamu sama teman mama. Dia kaya loh, sudah punya perusahaan sendiri, anak satu-satunya, baik lagi.” TEPOK JIDAT, HAIL TO THE WORLD! MOM, GET YOUR SENSES! MOM, GUA LELAH!! Kenapa Mom maksa banget gua nikah! Gua masih muda. Gua masih mau ngalamin yang namanya pacaran! Terus kenapa gua di jodohin seperti anak gak laku (emang sih) Gua lelah. Gua capek. Gua angkat tangan. Sigh...

Kenapa semua tidak berjalan lancar. . .

Haha. . .Gua pengen nangis. . .

AJA AJA FIGHTING, ALICE!

YOU WILL BECOME SOMETHING BIGGER THAN WHAT YOU COULD IMAGINE

FIGHTING! FIGHTING! FIGHTING!




  • Share:

You Might Also Like

1 comments