Gua pun Berpikir Untuk Apa?

Selasa, Juni 23, 2015

Have you ever felt so empty after you found out that every sweat that you sacrifice, every effort that you made, and every difficulties you encounter are all being taken as credits to someone that only do you some kind of favor?

Like... I've done so much but then all of that are helplessly given to someone else.

Like...shit, literally.

Gua udah pernah merasa hal itu sekali dan gua sudah menganggap itu angin berlalu. Namun ketika hal itu datang lagi, gua tidak bisa tidak merasa biasa saja. Bagaimana bisa merasa tenang ketika orang lain mendapatkan hasil jerih payah kita dengan cara yang tidak begitu jerih payah. Gua benar-benar merasa itu tidaklah adil. Gua merasa tidak sudi memberikannya.

Ceritanya adalah...

Gua bekerja setiap hari dari pagi hingga sore; membereskan dokumen, membuat pembelian, pergi ke atas, pergi ke bawah, melakukan segalanya sampai rambut gua hampir rontok semua. Gua diberi dengan upah sebesar X. Lalu setelah pulang kerja, gua ke kampus menggunakan jasa antar-jemput, hanya setiap hari senin sampai jumat dari sore hingga malam. Namun, upah yang gua berikan ke jasa antar-jemput itu hampir sebesar X. MENDEKATI X. Mendekati upah yang gua dapatkan bekerja setiap hari dari pagi hingga sore, dengan penat menggelora. Kemudian apa? Semua upah yang gua dapatkan harus gua berikan pada orang yang memberikan empat setengah jam waktunya untuk menjemput dan mengantar gua. . . Rasanya itu... tidak adil.

Semua itu membuat gua merasa, gua bekerja bukan untuk menghidupi gua sendiri, tapi menghidupi orang lain. Bagaimana gua bisa bertahan hidup dengan cara seperti itu? Gua merasa totally helpless.

. . .


Mong. . .

  • Share:

You Might Also Like

0 comments