MALING TENGAH MALAM!

Minggu, Desember 14, 2014

" Gua gak pernah nyangka bakalan seberani tengah malam itu...
Tapi ternyata... seru juga yah... "

Ketika gua lagi duduk dengan pandangan molor di ruang tamu, Gusta tiba-tiba nyeletuk, "Lu mau ikut surprisenya edut gak?"

Terus gua diem bentar. Sebenarnya dalam hati gua udah kesemsem kabargembirauntukkitasemua something lahh, tapi gua berusaha masang tampang poker face. Akhirnya gua pura-pura basa-basi, "Kapan? Dimana? Hari ini?"

Tampang gusta yang cute seperti Chowchow itu nampak begitu meragukan. Tampangnya itu benar-benar mirip tampang bercanda. Ketika dia bilang iya dan bertanya apakah gua mau ikut, gua, lagi-lagi, dengan tampang poker face membalas, "Boleh..." (Emang jawabannya pake boleh gak boleh ya? bego...)

Dengan planning itupun, gua kembali ke kamar. Gua berpikir untuk mandi dan beres-beres. Sampai akhirnya Gusta berencana pergi ke toko bersama Legoman. Saat itu juga, pikiran langsung mengatakan, "Kan... pasti Gusta cuman bercanda tuh... Dia aja udah pergi lagi tanpa ngajak gua. Taii...!" Gua mulai merasa pasrah dan akhirnya menonton drama korea "MISAENG" sampai waktu berjalan begitu cepat dan gua menyadarinya. Setiap beberapa waktu sekali gua akan melihat jam di tablet lenovo gua dan pikiran negatif semakin bertambah. "Wahhh... Gusta emang shit ini, udah jam segini, dia gak nongol-nongol juga." Langit semakin gelap dan semakin gelap hingga akhirnya harapan gua sudah pupus. Sudah jam 9 dan dia belum muncul, okeh...sip...

"...tok...tok....toktoktoktoktkotk..."

Gua pun sentak kaget. Jam berapa ini?

Ketika gua membuka pintu kamar gua, Gusta ada di depan beserta kawanannya. Gua pun ... "hah?"

Lalu Gusta mengingatkan gua, "Ikut surprise edut kan?"

"Iya... emang kemana?"

"Ke Jakarta Barat."

#jleb

Walaupun mata gua buta jalan, tapi gua tahu Jakarta Utara dan Jakarta Barat itu gak dekat. Gua tahu... Tapi kemudian ya gua ikut aja.

Gua nanya ke temannya Gusta, si Husky, "Kalian buat surprise apa  ke edut? Cake?"

Husky yang lagi main pokemon pun menjawab gua, setengah bingung, "Ehhh... gak tau... Palingan roti pake lilin terus udah..."

Otak gua loading. Roti. Pake lilin. Udah. Hmmmm

Kami pun masuk ke mobil dan meluncur.

Selama perjalanan yang cukup panjang itu, gua untuk kesekian kalinya merasa tercemplung ke dalam planet penuh alien. Semacam kura-kura yang dimasukkan ke dalam tangki ikan. Itu karena... yah... secara garis besar sih karena gua gak bisa adaptasi dengan benar disana. Like... Tiga orang cowok disitu ngomong dengan bahasa entah gaul entah kode. Gua hanya ikut-ikut ketawa kalau gua merasa mereka lucu.

PARAHNYA ITU.
HAPE GUA SEKARAT DAN DIBAWA KERUMAH SAKIT.
GUA PERGI HANYA MEMBAWA DIRI. Oopss..

Itu sumpah. Shit banget.

Kalau ada hape gua disitu pasti gua sok asyik sama hape gua kan.
Tapi hape gua gak ada disitu jadi gua mesti sok asyik dimana? Sok asyik sama mereka, padahal gua gak ngerti mereka lagi bahas apa?

Suatu waktu, Tejo (lol) mengomentari hapenya sendiri. "Gila! Anjing! Temen gua baru gua tinggal  beberapa menit chatnya udah ratusan! Anjing!" (Iya, anjingnya banyak.)

Terus gua liatin Tejo. Mata gua separuh tutup, separuh buka. Kayak gini >> (- . -)

Gua sebenarnya ingin bales, "Oh gitu...Gua juga pernah. Baru ditinggal gak sampe semenit chat udah bejibun." Dan kemudian gua mengingat masa-masa ketika gua dan teman-teman chat kayak anak tolol membicarakan entah apa dan mostly isi chatnya itu spam sticker. Ada juga sticker lobak gua yang pantatnya chubby-chubby-gitu. Tapi setelah gua reminiscence, gua gak jadi ngomong itu ke Tejo. Gusta sama Husky juga gak ngasih komentar berlebih.

Ketika kami berhenti di lampu merah, gua melihat ke samping gua, memandangi tempat tinggal kumuh di bawah jembatan. Baju-baju di 'jemur' di pagar ditiup-tiup oleh debu dan asap knalpot kendaraan. Gua mengira-ngira kehidupan mereka seperti apa, sedikit merasa punya empati lah. Karena gua juga sama tidak berdayanya, gua pun melihat ke depan lagi.

Mereka sedang membicarakan sesuatu hal seru ketika lampu kembali berwarna kuning padahal baru saja menyala hijau. Dengan sigap, Gusta langsung menginjak gas dan menerobos.

"Anjir! Ini lampu merahnya cuma buat dua mobil pertama doang! Anying!" seru Husky.

"Iya! Gua aja terkejut waktu lampunya kuning lagi! Anying!" jawab Gusta.

Gua pun menoleh ke belakang dengan muka gak percaya. Kami pun tertawa. Shit juga lampu merahnya. Trolling, emai. Emang fast & furious?

Melewati beberapa jalan, kami sudah berada di daerah kos-kosan Edut. Karena Maps tidak berfungsi dengan baik di lokasi jalan tikus, kami pun memperlambat roda dan bertanya-tanya ke orang yang nangkring di jalanan.

"Mas-mas, jalan ini dimana yah?" tanya Tejo.

Setelah mas-mas itu memberi arahan jalan ke Tejo, ia kembali lagi dan "Mukanya sangar banget anying. Gua takut juga." Kami pun ketawa. Kasian lu Tejo.

Kami pun keliling-keliling lagi karena ternyata salah masuk jalan. Setelah beberapa lama muter-muter, kami pun sampai di gang sempit. Mobil berhenti dan parkir di depan sebuah toko tua yang sudah tutup.

Temen Gusta mulai merasa gak beres, "Ini gimana nih. Kosnya Edut yang mana?"

Pada akhirnya mereka memutuskan untuk menelepon Edut sementara gua dan Tejo menyiapkan sari roti ulang tahun yang dibeli tadi di indomaret beserta sebuah lilin mungil dan langsing. Gua pun keluar memegang roti itu dengan dua tangan, semacam kue beneran. Edut pun keluar dari kosnya dan kami menghampirinya.

"Happy Birthday Edut! Happy birthday Edut!" #celebrationcelebration

Gua menyadari seberapa bloonnya gua waktu itu. Karena ketika Edut sudah meniup lilinnya dan kami berfoto, gua masih belum menyerahkan sari roti ke Edut. Pas foto gua juga hampir di tengah, megang sari roti, serasa gua yang ulang tahun aja. -_-)a Kan dodol. Setelah gua sadar beberapa waktu kemudian, barulah gua ngasih sari roti ke Edut. Ia segera memakan roti tersebut tanpa melepas lilin terlebih dahulu. Daebak.

"EH! Gua gak ngambil kunci kos-kosan!" seru Edut.

Gua lupa percakapan apa yang terjadi selanjutnya, namun percakapan tersebut berlangsung cukup lama. Sekitar jam 12an barulah kami beserta Edut jalan kaki ke kosnya Edut untuk mengambil kunci. Asemnya itu adalah, pintu kosnya Edut terkunci.

Asem.

Edut manggil-manggil, "Mbaa... tolong buka pintunya..." begitu hopelessnya.

Gusta menawarkan kasur yang ada di kamar gua untuk ditiduri Edut, sekaligus jasa antar ke kampus keesokan paginya. Namun, Edut menolak dengan alasan ia juga belum mengunci pintu kamarnya. Gua sendiri gak bisa berkata-kata akan ke-absurd-an yang sedang terjadi tengah malam itu.

Setelah beberapa lama manggil dan gak ada juga respon yang memuaskan selain suara batuk dari rumah sebelah, kami akhirnya berusaha untuk membobol rumah tersebut. Yeah.

Edut berkata untuk memasukkan tangan ke bagian dalam pintu dan menarik engsel-entah-apa lalu pintunya akan terbuka. Berhubung tangan gua merupakan tangan ter-tengkorak dari semua orang yang ada disana, gua pun memasukkan lengan gua. Tapi, sekurus-kurusnya, setulang-tulangnya gua, lengan gua masih belum bisa masuk sedalam yang diinginkan Edut. Semakin lama kami merasa semakin noob (no hope). Gua juga merasa semakin helpless.

Kami sesekali memanggil, "Mbaaaa... tolong buka pintu." Sesekali berusaha memasukkan lengan ke dalam.

Lima belas menit telah berlalu namun belum menunjukkan hasil yang memuaskan.

Gua terkejut ketika tiba-tiba ada sebongkah kayu masuk ke dalam sela pintu. Ide Tejo bagus juga. Sayangnya walaupun kayu yang diambil Tejo dapat menjangkau kunci pintu tersebut, Tejo gak punya superpower untuk melihat tembus pandang. Oleh karena itu, sebuah ide brilian datang. Edut meminta handphone Husky untuk dijadikan alat melihat kunci. Dengan tangan gua memegang handphone dengan kamera depan di kiri serta Tejo mengontrol kayu di kanan, rencana itu serasa akan berhasil.

Tangan gua semakin lama semakin kesemutan. Kami pun istirahat sejenak. Gua memijat-mijat lengan gua yang kesemutan, lalu kembali memasukkannya lagi ke dalam sela pintu. Tejo juga kembali memasukkan tangannya ke dalam.

Dua menit, lima menit, spuluh menit, limabelas menit berlalu.

"TIK..." Gua sudah mendengar suara itu berbunyi. Tapi gua ragu sehingga gua gak menyuruh Tejo untuk berhenti mengorek. Tapi ternyata selagi Tejo masih mengorek-ngorek kunci, gua merasa pintu tersebut bergoyang. Gua pun mendorong pintu jahanam itu dan ternyata pintu itu akhirnya terbuka!

AT LAST!

Gua gak nyangka bakalan seberani tengah malam ini...
Tapi ternyata... seru juga sih...

Malam-malam, nyongkel-nyongkel rumah orang. Kan GREGET.
#datfaceyo


Setelah masuk kembali ke kosannya, gua, Husky, Gusta, dan Tejo berpamitan. Kami pun pulang dengan sehat. (gak digebukin gara-gara nyongkel rumah orang kok)



Once again, Happy birthday Edut!
 IT IS INDEED THE AWESOMEST!


  • Share:

You Might Also Like

0 comments