Little Touch of Responding

Jumat, Mei 16, 2014

Apakah lu sadar bahwa hanya dengan sedikit respon dan perhatian, keadaan dapat berubah?

Dengan memberi senyuman, dengan menyapa, dengan memberi salam, dengan berkata baik, dengan menjawab pertanyaan, itu semua merupakan hal dasar yang dapat membuat orang senang.

Contohnya gua. Gak usah jauh-jauh. Gua aja jadi contohnya.

Ketika gua bertanya sesuatu, alangkah indahnya jika ada yang menjawab. Betapa menyedihkannya ketika gua bertanya dan semua orang sibuk pada pekerjaannya masing-masing tanpa memperdulikan sosok gua disitu. Bahkan hanya dengan menjawab "Oh, gua gak tahu" atau "Oh" pun sungguh lebih menyenangkan daripada tidak menjawab sama sekali. Serius. Bayangin:

"Eh, lu tau ga gua semalam ke sini sini sini loh!"
"OH."

Dapet gak perasaan gak enaknya?

Bayangin lagi nih:

"Eh, gua semalam makan nasi padang loh!"
"....................."
*gak ada yang bales*

Mana yang lebih menyakitkan coba?? Masih mending ada yang respon kan?

Sejutek-juteknya gua pun, gua masih dapat memberikan senyum ataupun tawa terpaksa walau gua don't give a shit. Sejahat apapun gua, gua tetep respon... (ada tanda titik tiga tuh)

So, jika secara tidak sengaja lu merasa perkataan gua ada benarnya, silahkan mencoba merespon orang lain yah. Gak ada yang salah dengan mencoba. Gak ada yang salah dengan mengulang kembali. Gak ada yang salah dengan bangkit kembali. Jika itu merupakan hal tepat yang perlu kamu lakukan, cobalah. Karena dengan mencoba, siapa tahu lu akan menguasainya. It's work for me. Let yourself learn something and earn it.

Kalau lu merespon, orang tersebut akan berpikir:

"Ah, mungkin gua salah ngomong sampe dia cuma bilang OH."
"Ah, mungkin kisah gua kurang fantastis sampe dia maksa ketawa."
"Ah, hahahha! Lucu banget liat mereka ketawa!"
"Ah, ternyata ada juga yang masih peduli."

Rasanya pasti bakalan berbeda dibanding ketika gak ada yang merespon sama sekali.

Kalau gak ada yang respon, rasanya seperti menangis tanpa suara di pucuk-pucuk ruangan. Dengan muka jelek, dekil, dakian, menyendiri ditemani dentingan galau jam dinding. Capek. Itu capek namanya. Sudah susah-susah merangkai kata demi kata, memproduksi saliva tiap menit, tapi gak ada yang peduli.

Lebih baik nulis kali yah? Lu nulis segala perasaanbajingankampretbahagiasenengmalumalu, walau gak ada yang respon juga masih mending. Karena dengan menulis, lu jarang mengetahui reaksi pembaca. #nahlho Semacam orang penyakitan yah? LOL.

Yah, itulah salah satu alasan kenapa gua menulis.

Gua benci mengakui bahwa gua menulis karena kurang perhatian. Gua benci mengakui bahwa gua menulis karena gak ada bahu kokoh. Gua benci mengakui bahwa gua menulis karena bosan. Kadang gua merasa gak harus mengakui itu karena memang tidak benar. Kadang gua merasa it's a true story, man. Betapa anehnya dunia ini.


-ditulis dalam keadaan ababil-

  • Share:

You Might Also Like

0 comments