Return 5

Minggu, Maret 17, 2013

CHAPTER 5

“Again and again and again and agaiiin…
again and again and again and again…
noege jaggoo doraga wae geureonji molla wae geureonji molla…”

Sorakan, teriakan, dan jeritan terdengar bergerumuh di segala tempat.

Pandangan orang-orang itu tertuju pada tujuh lelaki yang menari back-and-forth di atas panggung. Baju yang dipakai ketujuh orang itu memperlihatkan otot-otot seksi mereka yang mana membuat semakin banyak orang berteriak, “Awwww… Oppa! Oppa! Saranghaeyo! Oppaaaa~~♥!!”

-0-

Sebuah kelemahan menjadi pebisnis yang sibuk adalah ini. Gara-gara Juli terlalu terlambat mengetahui adanya konser “1Day” ini, kami kehabisan tiket tempat duduk. Yang tersisa hanyalah tiket untuk berdiri. -_- Akibatnya, gua, Juli, dan Franco harus berdesak-desakan bersama berpuluh-puluh orang lainnya di depan panggung itu. Bahkan tak jarang juga gua mendapat hadiah injakan sepatu high-heels. ARGH…
Acara sudah berlangsung selama hampir satu jam. Mungkin gara-gara terlalu lama berdiri, ikut bersorak, dan berdesakan, gua merasa mual dan sakit kepala. Terlebih lagi dengan keadaan sekitar gua yang lumayan gelap. Ini, nih, yang paling gua benci kalau ada konser terbuka seperti ini.

“GIMANA?? KEREN BANGET KAN?!!!!!” Teriak Juli, tepat di telinga gua. -_- Dia pun kembali bersorak-sorai bersama fangirl lainnya. Gendang telinga gua sudah cukup penuh dengan jeritan disana-sini, dan sekarang ditambah lagi dengan jeritan Juli, gua serasa mau tuli. Gua mengernyitkan dahi, sakit kepala dan mual gua sudah mencapai klimaksnya. Gua menarik baju Franco yang sedari tadi ada di samping gua. Layaknya gua, Franco juga tidak terlalu heboh dengan konser ini, menurutnya dia tidak sampai ke tahap gay untuk ikut heboh-hebohan disini.

“Kenapa?” Tanya Franco.

Dia melihat ke arah gua. Tapi karena suasananya begitu gelap, dia tak dapat melihat rona wajah gua yang memucat. Dia hanya bisa melihat bayangan gua.
“Gua pusing.” Hanya untuk menjawab pertanyaan saja gua sudah tak berenergi.
Di puncak-puncaknya sakit kepala gua, apalagi dengan penampakan miss A dipanggung ditemani dengan sorakan ria segala arah, gua masih harus mengulang kata-kata gua. Tapi sebelum gua sempat mengutarakan apa yang ingin gua katakan, tubuh gua sudah mengambil alih. Gua pingsan.


**


Ehem… Ini memang sering terjadi pada awal permulaan program diet seseorang. Sebenarnya apa yang kalian berikan padanya memang cocok, tapi mungkin tubuhnya tidak dapat menerima perubahan yang tiba-tiba seperti ini.”

“Terimakasih dok.”

“Kalau begitu saya pergi dulu. Ohya, ada baiknya jika kalian menemaninya selama beberapa hari menginap disini. Kalian tahu, rumah sakit tidak selalu menyenangkan.”

*tap tap tap* *ngek*

“Juli… See my eyes. You. Are. Not. Sorry. Okay? Don’t blame yourself, please.”

Gua terbangun oleh suara-suara yang mengganggu tidur gua.

Ketika gua membuka mata, gua mendapati Juli dan Franco berada di sebelah kanan gua. Franco sedang memegang pundak Juli, seakan ingin meyakinkan Juli bahwa Juli bisa berpangku padanya. Sementara itu, Juli terus memandang kebawah. Keduanya terus begitu sampai Franco melihat ke arah gua.

“You are awake.”

Juli berbalik dan menatap gua dengan matanya yang berkaca-kaca. Melihat gua terbangun dari tidur, she burst into tears. .. .. ..

Gua melihat Franco yang masih terus berusaha menenangkan Juli.

Okay, jadi gua pingsan, ya kan?

Gua tak pernah sekalipun melihat Juli se-emosional ini sebelumnya. Oleh karena itu ketika dia bersikap seperti sekarang ini, gua tidak tahu harus berbuat apa. Juli yang biasanya selalu ceria setiap saat berubah menjadi sesedih ini?

“Gua baik-baik aja kok, Juli. Jangan lebay gitu deh.” Kata gua berusaha mencairkan suasana.

“Bener tuh, Juli. Lu lebay amat.” Sambung Franco.

Juli menggeleng-gelengkan kepalanya. “Enggak. Ini salah gua. Kalau aja gua bisa lebih perhitungan…” Juli menggenggam tangan gua. “Can-chan. Sorri banget kalau gua maksa lu diet sampai kek gini…Gua udah telepeon mamamu. Can-chan, lebih baik rencana ini dibatalkan aja.”

Gua menatap Juli tak percaya.

Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Mom masuk bersama Catherine. Dad mengikuti dari belakang. Melihat keluarga gua datang, Franco dan Juli menyampaikan salam mereka lalu meninggalkan ruangan. Juli juga tak lupa mengatakan kata maafnya terus-menerus. “Sudah aku bilang, ini tidak akan berhasil. Kenapa kalian masih ngotot?” mata biru Dad bergetar karena amarah.

Huh. . .

Berbanding terbalik dari Dad, Mom langsung mendekati dan membelai kepala gua. Tentu saja, mereka akan khawatir setelah mendapati anak mereka yang tinggal dengan orang lain ada disini dalam keadaan tidak sehat. Layaknya Juli, mata Mom berkaca-kaca. Hanya butuh beberapa patah kata untuk mengeluarkan air mata yang ingin meluncur itu.

“Candy . . .”

Tepat seperti kata gua, Mom meneteskan air mata.

Sekarang gua jadi tidak mengerti dengan situasi yang ada.

Gua cuma pingsan dan dibawa kerumah sakit. Dan sekarang semua orang bertindak seperti gua orang yang terkena kanker atau apa.

Kenapa mereka semua begitu dramatis?

Gua bangkit dari posisi tidur ke posisi duduk. Gua baru akan berbicara ketika Dad menyela gua.

“Mulai sekarang juga. Kamu tidak boleh ketemuan sama Juli lagi. Titik!”

Ha ha ha… Dad bercanda kan?

“Dad… Juli itu teman aku…”

“Dad sudah menolak tawaran dia untuk membuat acara diet-diet segala buat kamu. Tapi dianya ngotot banget sampai membahayakan kamu. Lihat! Sekarang kamu ada disini! Anak MACAM APA ITU?! Hah!! Kalau orang tua sudah bilang tidak, ya tidak! Pokoknyaa—“

“DAD!!! JADI MAKSUD Dad, aku gak boleh berteman sama siapa aja? Dad tahu gak sih, selama ini kehidupan aku itu gimana? Gara-gara Dad, aku hidup dikucilkan. Semua teman aku menjauh! Dad pikir itu untuk kebaikan aku! Tapi Dad SALAH BESAR!!”

“APA MAKSUD KAMU marah-marah sama Dad? Ini MEMANG untuk kebaikan kamu!” Ha… Ha… Ini memang untuk kebaikan gua? Jadi selama ini, gua selalu hidup sendirian, dijauhi, dikucilkan, dan digosipkan, itu semua untuk kebaikan gua? Buat apa? Supaya gua mengerti apa arti kehidupan menakutkan seperti itu? Supaya gua bisa terbiasa hidup di dunia mengerikan ini? Atau supaya gua gak pernah melihat cahaya terang dunia? Gua benar-benar tak bisa mengerti jalan pikiran Dad. Dan gua tak akan pernah bisa.

Dad bahkan tidak menanyakan keadaan gua dan langsung memarahi gua seperti ini. Dan Dad bilang INI demi kebaikan gua? What a big fat liar!

Gua MUAK dengan apa yang terjadi disekitar gua. Gua muak dengan segala tantangan yang terjadi beberapa hari ini gara-gara program diet sialan itu. Gua muak dengan kedatangan Dad yang membuat kacaubalau. Gua muak dengan tangisan Juli dan Mom yang tak henti-henti. Gua juga muak melihat Catherine sepertinya mendapat kebebasan lebih dari gua. Gua muak dengan hidup ini.

"You know what? I'm done! I'm sick and tired of your protective shitness!! Just leave my room or I'll leave!!!"

Diam. Suasana di kamar rumah sakit itu begitu sunyi. Tak ada seorang pun yang berniat untuk meninggalkan kamar suram itu kecuali gua. Gua turun dari kasur dan mencabut IV yang tertusuk di lengan gua. Gua berjalan keluar.

Apaan-apaan ini?!

Kaki gua terhenti sejenak di depan pintu.

Bahkan tak ada seorang pun yang akan menahan gua? Hah.... Untuk apa juga gua berharap akan ada orang yang berusaha mencegat gua? Toh rasanya tak ada yang terlalu peduli dengan gua. If that's what they want, okay! I'm out of this fucking room! 

Barulah ketika gua keluar dari kamar itu, rasa perih di mata gua berkumpul. Setetes demi setetes air keluar dari kedua bola mata gua. Pandangan mata pun mengabur.

“Candy . . .?”

. . .

. . . . .

That sound. . .

Ha ha ha ha ha …

Di tengah kapal pecah yang terjadi, kenapa yang seperti ini juga harus terjadi?
Theo melihat gua dari atas sampai bawah.

Gua sudah terlalu lelah untuk berakting di depannya lagi. Oleh karena itu, gua memilih untuk berpaling, dari dirinya dan dari semua orang.

Ketika gua sudah berjalan sekitar tiga langkah, gua merasakan sebuah tangan hinggap di bahu gua. . .

Tangan tersebut memberikan tekanan terhadap bahu gua, seakan ingin menenangkan.

"Be strong, can."

**



NEXT CHAPTER 


>> Author Note: Gua merasa jalan cerita ini makin lama makin ngaco dan aneh. Jadi,... maafkanlah daku, jika anda merasa kecewa. Berikanlah daku saran dengan memberi komentar di bawah ini, terimakasih sayang :* <<

  • Share:

You Might Also Like

3 comments

  1. komentarnya tolong restruturisasi jika rasa ngaco wkwkwkw....... luangkan wktu lbh bnyk tpi jgn lupa bljr wkwkwk....

    BalasHapus
  2. restrukturisasi maksud saya hahah....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wakaka... Makasih komennya. ;D

      Hapus