Return 2

Minggu, Februari 24, 2013

CHAPTER 2


Matahari sudah bergeser sedikiiiiit dari sebelumnya. 16.24. Sudah jam 4.

Tepat seperti kata Theo. Keluar dari Mall, berjalan lima blok dan ada gedung bernama KIS FM. Gedung itu terletak persis di sebelah rumah makan minang yang tadi siang gua tempatin.

Dengan satu tangan memegang tas dan satu lagi mengepal keras, gua bersiap-siap masuk ke tempat itu. Satu, dua, satu, dua. Akhirnya gua pun berada di dalam gedung. Gedung itu begituuuu luas, dan berliku. Suasananya membuat gua migraine tiba-tiba.

Nyut nyut nyut.

Tangga. Oh, tangga. Dimanakah dirimu. Tunjukkan bakat, eh, tunjukkan bentukmu.

Nyut nyut nyut.

Gua menekan kepala bagian kiri gua.

“Eh, mas atau mba, tangganya dimana ya?” Gua bertanya pada salah satu orang yang lewat di depan gua. Migraine tiba-tiba membuat penglihatan gua bergetar.

“Oh, lift di sebelah kanan, dek.”

“Makasi…”

Gua menyeret pantat gua ke arah yang ditunjukkan mas/mba yang tadi. Gua sakit kepala dan yang gua temukan didepan gua adalah lift. NICE. Tanpa ada pilihan lain, gua masuk ke dalam lift dan baru akan menekan tombol tutup ketika seseorang masuk kedalam. Tanpa basa-basi, gua menekan tombol 3 dan tombol tutup ketika seseorang masuk lagi kedalam. -_- Dan gua baru akan menekan tombol tutup lagi ketika seseorang lagi masuk ke dalam. TWO THUMBS UP.

Shit.” I mumbled.

What?!” tanya seseorang di samping gua.

Gua terlalu sakit untuk melongo ke atas. Dari pandangan gua ke bawah, gua tahu kalau dia adalah cewek. High heels warna hitam, dan rok pensil. Menyadari bahwa gua gak menjawab lagi, cewek itu berpaling kearah lain.

“Hatchu!”

“Ohmygosh… kamu sakit?”

“Hatchu!”

“Ohmygosh…kamu beeneran sakit?”

“Haa…haaa….hatchu!”

“ohmygosh, kamu—"

“LU GAK BISA LIAT DIA ITU BERSIN APA? IS THAT LOOKS LIKE HE OR SHE IS OKAY? WHAT THE HECK? ARGH… IF YOU WANNA HATCHU THEN PUH-LEEESE USE TISSUE. JANGAN DISEBARKAN KEK GITU. ARGH!!”

i. lost. Control.

“What the he—“

*ting*

HOLY GOD. God save me. Gua cepat-cepat keluar sebelum orang-orang itu melihat muka gua. Pintu lift kembali tertutup. Huh, siapa juga yang nanya orang sakit atau enggak padahal udah tahu kalau dia itu sakit? Whatever. Gua harus mencari pintu kedua dari kiri.

Satu.
Dua.
Tok.tok.tok. Tiga ketukan pintu dan gua masuk.

TADA!! Seorang cewek menatap gua dan tersenyum. “Selamat! Kamu mendapat gratis makan seumur hidup di pizza hut!

Huh?? -0-^

Gua menggeleng-gelengkan kepala, sekarang kepala gua sakit semuanya. ARGH. Pasti gua berhalusinasi lagi.

Gua memfokuskan mata gua dan mendapati seorang cewek menatap gua dan tersenyum. Dari penglihatan gua yang kabur, gua masih bisa melihat senyuman cewek itu dipaksakan. Cewek itu melihat gua dari ujung rambut sampai ujung kuku kaki, or so what I thought. Wangi mawar menusuk hidung, gua gak suka banget dengan parfum ini. . . Rambutnya yang coklat pirang tergerai lurus sampai ke bahu. Muka cewek itu kuning pucat. . .

Dan suasana di samping gua juga terlihat kuning. GOD. Apa sih yang bikin gua sakit kepala hebat begini??

“Theo belum datang. Letakkan aja barangnya disana. Thanks.” Cewek itu kembali tersenyum. “Kalau kamu mau, kamu bisa duduk disebelah dan melihat kami. Kamu kelihatan pucat.”

Gua berusaha membentuk senyum tapi malah menghasilkan tarikan bibir keatas secara aneh. Gua melihat sekeliling, berharap penglihatan gua kembali normal. Dan kemudian gua menemukan tas belanjaan gua terletak di pojok ruangan. Gua berusaha keras menyeret badan gua kesana dan menukar tas itu dengan tas yang sedari tadi gua pegang.

“Thanks. Gua bakal istirahat di samping.” Gua menoleh ke arah cewek itu lagi, tapi dia sibuk dengan segala peralatannya. Dan gua pun memutar kenob pintu. . .

“Hey!”

CRAP! Theo berdiri didekat pintu. Walau masih dalam pengaruh sakit kepala, gua masih bisa melihat cowok yang bertabrakan dengan gua tadi siang. Theo tidak lagi memakai kacamata anehnya, sekarang dia terlihat keren.

“Hi!”

“Thanks udah mau ngantarin barangnya. Gua tahu seharusnya gua yang ngembaliin. Gua payah. Gua harap lu bisa mengerti. By the way, I am Theo. Nice to meet you.” Dia mengulurkan tangannya. By the way, gua udah tahu namanya sebelum dia memperkenalkan diri. Now, I feel like a stalker. . .

Gua melihat tangannya yang terulur. Dalam dua puluh tahun kehidupan seorang Candy Lee, baru pertama kalinya ada cowok selain pembantu gua yang mengulurkan tangannya. Gua memberanikan diri dan berusaha mengusir rasa sakit kepala gua. Gua menyambut tangan itu. Gua merasakan setruman kecil, hangat dan nyaman. Theo tersenyum kecil. Gua juga tersenyum, kaku.

“Gua harus balik. Lu boleh kok pergi ke ruang sebelah dan mengintip. Hahhaa…”

“oh… o-kay. Thanks… Ah… I am Candy.”

Theo masuk ke dalam dan duduk di samping cewek barusan. Gua pun keluar. Di samping rasa sakit, kepala gua sekarang terisi dengan rasa penasaran. Gua ingin tahu apa yang bakal dilakukan Theo dan cewek itu sehingga mereka mengizinkan gua untuk duduk di ruangan sebelah.

Gua pun menyeret kembali badan gua ke pintu sebelum pintu yang tadi. Pintu itu tidak tertutup rapat dan gua pun masuk. Ada kaca tembus pandang yang cukup panjang sampai ke pinggul dan lebar sampai satu ruangan penuh. Disana, kita bisa melihat dengan jelas keadaan ruangan sebelah. Gua bahkan tidak menyadari ada kaca di ruangan yang tadi. Ada dua orang di ruangan ini yang memonitor setiap gerak-gerik mereka- dan gua rasa gerak-gerik gua juga.

Gua bisa mendengar suara ruang sebelah tempat Theo dan cewek yang gak gua kenal namanya berada. Lampu merah bertuliskan ON AIR memberi gua petunjuk bahwa mereka sedang meyiar radio. Gua melihat jam tangan salah seorang staff, jam menunjukkan pukul 17.15. Gua berusaha berpikir tentang acara apa yang mereka siarkan.

KIS FM. 17.15. Sepasang penyiar cowok dan cewek. Hari Jumat. Hmmm…

Entah kenapa, gua merasa mengenali suara itu, suara mereka berdua. Seperti sebuah acara yang sudah lama gak gua didengar lagi. Sebuah siaran yang pernah menjadi rutinitas malam gua, yang pernah menjadi pengantar tidur sore gua, yang pernah menemani gya, dulu, dulu sekali. Sebelum gua lulus SMA, dan gua rasa sebelum gua memilih jurusan IPA. Acara ini bernama . . .

“Sore semuanya. Tepat pukul 5 lewat lima belas menit, kami akan menemani kamu sampai satu jam kedepan. Bersama number one dan number two di…”

Gua bisa merasakan panas di sekujur tubuh gua, gua mulai gemetar. Keringat dingin mengucur dari kening gua. Gua mengangkat tangan gua untuk menutupi mulut gua yang terbuka lebar. Mata gua terus menatap Theo.

“…One-Hour!”

Sambungan kata cewek tadi, menghujani dada gua dengan rasa sesak. Gua menggelengkan kepala, dan mundur dua langkah perlahan. Theo akhirnya melihat gua, begitu juga dengan cewek itu, number two.

Gua gak sanggup lagi menahan rasa sakit di kepala dan di dada gua. Gua melangkah terhuyung-huyung keluar dan sesekali berlari kecil tanpa membalikkan badan. Gua yakin Number one dan Number two bakal terheran-heran melihat gua yang bersikap aneh tadi. Tapi untuk saat ini, gua benar-benar ketakuran dan ingin segera berteleportasi ke rumah.

Gua keluar dan menaiki taksi pulang ke rumah. Melewati aroma ikan salmon yang dikukus, dan salad buah yang segar, gua masuk ke kamar dan menguncinya. Gua berlindung di dalam selimut dan berusaha menahan rasa pengat di dada. Air mata gua perlahan jatuh, jatuh, jatuh. Satu tetes dua tetes, dan seterusnya. Gua lelah. Sangat lelah. Gua menutup mata dan berharap gua sedang mimpi, atau gua sedang berkhayal gara-gara sakit kepala gua. Gua berharap ini semua cuma mimpi, mimpi buruk yang paling buruk seumur hidup gua.

“Don’t think highly of yourself. You are nothing but an idiot.” Kata-katanya menghujam setiap pori-pori, seakan ingin masuk kedalamnya.



//



NEXT CHAPTER

  • Share:

You Might Also Like

0 comments